Walau apa kata mereka, aku tetap pada prinsip awalku.
Langkah menuju pasti.
Sabtu, 04 September 2010
Rabu, 01 September 2010
Senin, 04 Januari 2010
FRAP
Aku tak tahu lagi, harus bagaimana sekarang.
Aku terlalu terbuai angan masa lalu.
Aku selalu berusaha bangkit, dan coba tuk dapat rela dan melepasnya.
tak hanya tuk sekarang saja, tapi juga tuk jelang hari-hari berikutnya.
Namun tetap saja tak dapat seutuhnya.
Dia dan aku ada, tuk bersama.
Itu ungkapan konyol yang salalu terucap dari lisanku, dulu waktu masih bersamanya.
Akankah takdir benar adanya?
kalau ia?
TOLONG ANTARKAN DIA, UNTUKKU.
DAN AKU MOHON JAGA KESUCIANKU, UNTUKNYA.
Aku terlalu terbuai angan masa lalu.
Aku selalu berusaha bangkit, dan coba tuk dapat rela dan melepasnya.
tak hanya tuk sekarang saja, tapi juga tuk jelang hari-hari berikutnya.
Namun tetap saja tak dapat seutuhnya.
Dia dan aku ada, tuk bersama.
Itu ungkapan konyol yang salalu terucap dari lisanku, dulu waktu masih bersamanya.
Akankah takdir benar adanya?
kalau ia?
TOLONG ANTARKAN DIA, UNTUKKU.
DAN AKU MOHON JAGA KESUCIANKU, UNTUKNYA.
Selasa, 29 Desember 2009
DUSTA
cinta...
telah sekian kali kau ungkapkan
sayang...
bahkan beribu sudah kau katakan
derai lembut sentuhmu
tak mampu lemaskan kerasnya hati ku
secuil senyummu
menambahkan deretan luka di kalbu...
telah sekian kali kau ungkapkan
sayang...
bahkan beribu sudah kau katakan
derai lembut sentuhmu
tak mampu lemaskan kerasnya hati ku
secuil senyummu
menambahkan deretan luka di kalbu...
Senin, 28 Desember 2009
SENDIRI
oh bunda...
kurindu semua darimu
derai lembut sentuh mu
telah sekian kali membelai tubuh ini
tak dapat ku raba lagi sekarang
ukran manis bibir mu
tak dapat ku pandang jua sekarang
bahkan derai langkahmu
tak dapat pula ku gapai
semerbak mewanginya
tak lagi menghiasi lingkaran kamar ku
dimanapun engkau berada
kukan slalu ada untuk mu
berada di dekat mu
panjatkan doa ku
kan slalu menemani hari-hari mu
mengiri setiap derap kaki mu
jauh di sana
surga sang pencipta...
kurindu semua darimu
derai lembut sentuh mu
telah sekian kali membelai tubuh ini
tak dapat ku raba lagi sekarang
ukran manis bibir mu
tak dapat ku pandang jua sekarang
bahkan derai langkahmu
tak dapat pula ku gapai
semerbak mewanginya
tak lagi menghiasi lingkaran kamar ku
dimanapun engkau berada
kukan slalu ada untuk mu
berada di dekat mu
panjatkan doa ku
kan slalu menemani hari-hari mu
mengiri setiap derap kaki mu
jauh di sana
surga sang pencipta...
MENGAPA???
kau pergi
jauh....
tanpa pamit
apalagi permisi pada ku
meninggalku
sendiri
sepi menyelimuti
mengapa?
mengapa harus seperti ini
hari-hari ku lewati tanpa mu
senyummu tak ada lagi untuk ku
hanya seulas benci dan murka
yang tersisa bagi ku
kini ku kembali
menjanjikan berjuta kejora
yang berterbangan mengangkasa
untuk ku...
hanya untuk ku...
mengapa baru sekarang kau katakan
setelah ada yang membuka gerbang di hatiku
dulu telah ku berikan kuncinya pada mu
kupasrahkan hati in untuk mu
tapi kau sia-siakan
membuangnya jauh ke dasar samudra
hingga seseorang memungut dan membukakannya
untuk ku...
jauh....
tanpa pamit
apalagi permisi pada ku
meninggalku
sendiri
sepi menyelimuti
mengapa?
mengapa harus seperti ini
hari-hari ku lewati tanpa mu
senyummu tak ada lagi untuk ku
hanya seulas benci dan murka
yang tersisa bagi ku
kini ku kembali
menjanjikan berjuta kejora
yang berterbangan mengangkasa
untuk ku...
hanya untuk ku...
mengapa baru sekarang kau katakan
setelah ada yang membuka gerbang di hatiku
dulu telah ku berikan kuncinya pada mu
kupasrahkan hati in untuk mu
tapi kau sia-siakan
membuangnya jauh ke dasar samudra
hingga seseorang memungut dan membukakannya
untuk ku...
KEJORA
lima belas...
bulat bulan sekepalan bola tangan
ku kenang kau
wajah indahmu
bercakap ria dengan sang kejora
ia tahu di bawah sana aku
pemuja rahasianya
diarahkan telunjuknya
kebawah
menerobos bingkai kamarku
tepat menusuk jiwa ku
tertunduk, tersipu
bulat bulan sekepalan bola tangan
ku kenang kau
wajah indahmu
bercakap ria dengan sang kejora
ia tahu di bawah sana aku
pemuja rahasianya
diarahkan telunjuknya
kebawah
menerobos bingkai kamarku
tepat menusuk jiwa ku
tertunduk, tersipu
Langganan:
Postingan (Atom)